HUJAN
iseng-iseng nulis tapi bukan iseng-iseng gak ada kerjaan karena tulisan ini dibuat saat menunggu hujan reda, untuk melanjutkan aktivitas yang terhenti sejenak karena hujan, dan tulisan ini juga bukan iseng-iseng berhadiah karena saya tiduk mengikuti perlombaan, dan tulisan ini tidak terinspirasi dari film dokumentari dari jepang "no flower without rain" (artinya cari aja dikamus, apalagi arti philosopinya tidak akan saya jelaskan karena kita tidak belajar philosopi). terlebih lagi tulisan ini tidak didasari pada band yang bernama HUJAN karena tidak terlintas dipikiran. bahkan tulisan ini bukan tentang motivasi karena ini hanya iseng-iseng dan motivasi, sampah atau tidaknya tergantung yang membacanya untuk menilai.
hujan deras yang turun suaranya begitu merdu menghantam, mengetuk tanah dan aspal jalan sehingga mengeluarkan alunan melodi indah mengundang rasa kantuk, melodi yang dapat dinikmati oleh para seniman ataupun bukan dari kalangan mereka. semakin deras itu semakin ada semangat dalam irama riuh rendah hujan itu..
apa itu hujan
hujan adalah tetesan, siraman, curahan air dari langit yang awalnya berasal dari penguapan air bumi karena panas terbang ke langit sehingga membentuk awan dan dengan bantuan angin awan itu bergerak kesana-kemari (bukan mencari alamat), karena suhu bumi yang rendah akhirnya awan membentuk air, dan karena berat dan tak mampu ditopang oleh angin maka turunlah hujan...
apa yang kita pikirkan saat hujan
bagi yang tinggal di perkotaan dengan sistem drinase yang buruk akan berfikir tentang banjir, cepat selamatkan harta benda, angkut ketempat tinggi, pindahkan peralatan elektronik komputer, laptop dan radio, agar benda-benda itu tak terkena air, suapaya barang-barang itu tak belajar berenang. dan orang kampung yang bertetangga dengan sungai difikiran mereka juga tentang banjir, melihat sungai sebelah rumah, airnya sudah mulai mencoklat bak air milo atau susu coklat, cepat angkut barang di hulu telah banjir. Dan ketika hujan ditemani sahabatnyasang petir putra Guntur bin kilat gelegar sebagian orang di manapun berada cepat-cepat mematikan semua barang elektronik takut terkena renjatan listrik berkekuatan tinggi.
Apa yang tidak diajarkan hujan
Hujan tidak mengajar kita mengeluh. Tapi hal ini banyak terjadi dan kita lakukan. Mengeluh adlah hal terbodoh yang kita lakukan saat hujan bahkan setiap kali hujan kita berkicau “ah hujan” tidakkah kita sadar bahwa hujan itu rahmat Tuhan dan hal in telah diajarkan dalam kitab suci alqur’an dan hadist nabi klo kita mengeluh tentang hujan beerarti kita telah menolak rahmat dari Allah swt. Hujan itu reski kepada manusia kepada manusia yang diatur oleh malaikat reski untuk membasahi bumi. Allah memberikan hidup kepada bumi melalui perantaraan tetes hujan. Kalaupun terjadi banjir jangan pernah menuding jari kepada hujan karena hujan hanya menjalankan tugas dari sang khaliq. Salahkan diri kita sendiri sebagai manusia membuang sampah di sembarang tempat, menebang pohon sesuka hati dan mencemari sungai-sungi dengan sampah sarap berbau busuk.
Apa yang diajarkan hujan
Positive thinking alias husnudzanny atau pikiran baik bukan fiktor (fikiran kotor), atau kata tukang sulap sugesti positif. Hujan adalah rahmat tuhan. Mungkin kita telah merenacanakan sesuatu tapi karena hujan turun semuanya terbatal tapi tidak berantakan, kenapa, karena hujan adalah rahmat tuhan, maka saat itu sepantasnya dan seharusnya kita berfikir bahwa aka nada hikmah di balik semua itu (ada rahasia dibalik rahasia), ada sesuatu yang baik menanti. Mari kita meyakinkan diri kita bahwa akan ada hikmah di balik hujan yang turun, hikmah yang terlihat ketika kita mau membuka hati, melebarkan mata dan melapangkan akal. Mari memantapkan keyakinan bahwa setelah hujan sesuatu yang lebih baik menantikan yang dijanjikan oleh Allah. Bahkan hujan ini yang mengajarkan tentang positif thinking bukan hanya hujan dari langi tapi juga hujan air mata, hujan keringat
hujan juga mengajarkan tentang bekerja keras bahwa hujan bukan peghalang berbuat kebaikan. Meredah hujan adalah sebuah roamntisme bagi seorang pekerja keras, mereka takkan terkalahkan oleh dinginnya air hujan menghentam badan, kerasnya terpaan angin menolak raga. Hujan tak pernah mengajarkan kemalasan untuk terus berada dibalik selimut menikmati enaknya udara dingin hembusan hujan, tapi hujan mengajarkan kita melawn kemalasan, meredah dan melawan butiran air (bukan “butiran debu” nya rumor, ketika jatuh tak bisa bangkit lagi) yang menikam kulit hawa dinginnya. Percaya bahwa melawan hujan untuk hal kebaikan adalah sesuatu yang indah bin romantis, percaya bahwa aka nada kebaikan menunggu diujung sana ketika melawan mereda hujan.
No comments:
Post a Comment